Tuberkulosis (TBC) sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Padahal, TBC pada anak merupakan masalah kesehatan serius di Indonesia yang kerap sulit didiagnosis.
Apa itu TBC pada Anak?
TBC (Tuberkulosis) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling sering menyerang paru-paru (TBC Paru), tetapi juga bisa menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening, selaput otak (meningitis), tulang, dan organ tubuh lainnya (TBC Ekstra Paru).
Sistem kekebalan tubuh anak, terutama balita (di bawah 5 tahun), belum sekuat orang dewasa sehingga mereka lebih rentan terhadap infeksi TBC.
Ada dua kondisi utama TBC yaitu infeksi TBC laten dan penyakit TBC aktif.
1. TBC Laten
Kondisi ini terjadi ketika kuman TBC sudah masuk ke tubuh, tetapi berhasil “dipagari” oleh sistem kekebalan. Anak tidak menunjukkan gejala dan tidak menularkan penyakit. Namun, infeksi ini bisa menjadi aktif kapan saja, terutama jika daya tahan tubuh menurun (misalnya karena gizi buruk).
2. TBC Aktif
Kondisi ini terjadi ketika kuman berkembang biak dan menimbulkan gejala sakit yang dapat menular ke orang lain. Pada anak, bentuk TBC aktif bisa lebih berat, misalnya TBC meningitis (menyerang otak) yang berisiko menyebabkan kecacatan permanen atau kematian.
Penyebab TBC
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko anak terkena TBC antara lain:
Usia (0–5 tahun)
Jenis Kelamin Laki-laki
Gizi Buruk
Riwayat Kontak dengan Penderita TBC
Kondisi Sosial Ekonomi Rendah
Riwayat Imunisasi BCG
Paparan Asap Rokok
Kepadatan Tempat Tinggal
Penelitian menyimpulkan bahwa riwayat kontak dengan penderita TBC merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap terjadinya TBC pada anak.
Cara Penularan TBC pada Anak
TBC bukan penyakit keturunan. Penularan terjadi melalui udara ketika penderita TBC paru batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi, sehingga percikan udara (droplet) yang mengandung kuman terhirup oleh orang di sekitarnya.
Faktor utama penularan pada anak adalah kontak erat dengan penderita TBC dewasa yang masih infeksius, terutama jika tinggal serumah (orang tua, kakek, nenek, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya).
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Berbeda dari orang dewasa, gejala TBC pada anak sering tidak khas dan mirip dengan penyakit lain. Oleh karena itu, orang tua dan tenaga kesehatan perlu waspada terhadap gejala berikut:
Batuk lebih dari 2 minggu yang tidak membaik dengan pengobatan biasa
Demam lebih dari 2 minggu tanpa sebab jelas dan hilang timbul
Berat badan tidak naik atau justru menurun selama 2 bulan berturut-turut meskipun asupan makanan baik
Anak tampak lesu dan kurang aktif
Pembesaran kelenjar getah bening (benjolan di leher, ketiak, atau lipat paha) yang tidak nyeri dan menetap
Riwayat kontak erat dengan penderita TBC
Pemeriksaan dan Diagnosis
Menegakkan diagnosis TBC pada anak tidak mudah. Dokter akan menggunakan sistem skoring TBC anak berdasarkan kombinasi beberapa kriteria, antara lain:
Riwayat kontak erat dengan pasien TBC dewasa.
Gejala klinis (batuk, demam, berat badan).
Uji Tuberkulin (Mantoux Test) untuk melihat reaksi tubuh terhadap kuman TBC.
Pemeriksaan foto Rontgen dada.
Pemeriksaan penunjang lain, seperti pemeriksaan bakteriologis (jika anak bisa mengeluarkan dahak) atau pemeriksaan GeneXpert untuk mendeteksi kuman TBC secara cepat dan melihat resistensi obat.
Tips Penanggulangan TBC pada Anak
Penanggulangan TBC terdiri dari penanganan preventif (pencegahan) dan juga penanganan kuratif (penngobatan).
Tips Pencegahan TBC
Pencegahan TBC dapat dilakukan melalui tiga upaya, yaitu pengendalian faktor risiko TBC, vaksinasi BCG, dan pemberian TPT.
Pengendalian Faktor Risiko
Pengendalian faktor risiko ini meliputi peningkatan ventilasi udara, etika batuk, pemisahan pasien infeksius, serta penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi petugas kesehatan.
Vaksinasi BCG
Vaksinasi diberikan pada bayi usia 0–2 bulan untuk mencegah TBC berat seperti meningitis TBC atau TBC milier. Pemberian vaksin lebih dari sekali tidak dianjurkan karena tidak menambah perlindungan terhadap TBC.
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)
TPT diberikan kepada anak yang pernah kontak erat dengan penderita TBC agar infeksinya tidak berkembang menjadi TBC aktif. TPT terbukti menurunkan risiko sakit TBC di masa depan, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh lemah.
Tips Pengobatan TBC
Anak dengan TBC aktif harus menjalani pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) minimal 6 bulan, dengan kombinasi beberapa obat seperti Isoniazid, Rifampisin, dan Pirazinamid.
Keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada kepatuhan minum obat secara teratur dan tuntas, di bawah pengawasan Pengawas Menelan Obat (PMO).