Kenapa Protein Ibu Menyusui Harus Lebih Tinggi? Ini Penjelasannya

Article 06 Oct 2026 |
Penulis : Achmad Dzulkifli
Kenapa Protein Ibu Menyusui Harus Lebih Tinggi? Ini Penjelasannya

Bayangkan tubuh seorang ibu menyusui seperti pabrik kecil yang bekerja nonstop, siang dan malam, tanpa hari libur. Setiap kali bayi menempel dan menyusu, pabrik ini memproduksi "cairan ajaib" bernama ASI yang lengkap dengan protein, lemak, gula, dan zat kekebalan tubuh. Pertanyaannya, dari mana semua bahan baku itu diambil kalau bukan dari tubuh sang ibu sendiri?

Di sinilah protein memegang peran utama. Tapi kenapa, sih, kebutuhan protein ibu menyusui bisa melonjak jauh lebih tinggi dibanding perempuan pada umumnya?

Menyusui Itu "Proyek Konstruksi" yang Butuh Bahan Bangunan

Coba pikirkan ASI sebagai proyek pembangunan rumah. Setiap hari, tubuh ibu harus menyediakan "material" untuk membangun otot, otak, dan organ bayi yang tumbuh pesat. Produksi ASI saja membutuhkan sekitar 700-800 ml cairan per hari pada bulan-bulan awal, dan sebagian besar komponennya disusun dari protein.

Selain untuk bayi, protein juga dipakai tubuh ibu untuk memperbaiki jaringan yang "aus" akibat proses melahirkan, menjaga massa otot agar tidak menyusut, dan mendukung produksi hormon yang mengatur laktasi. Jadi wajar kalau kebutuhannya naik bukan hanya menyusui satu mulut, tapi menyusui dua tubuh sekaligus yakni tubuh ibu dan tubuh bayi.

Apa Sebenarnya Tugas Protein Selama Menyusui?

Protein bukan cuma "bahan bangunan" ASI. Ia juga jadi kurir yang membawa antibodi ke tubuh bayi lewat ASI, membantu penyembuhan luka pasca persalinan (terutama bila lewat operasi caesar), menjaga kekuatan otot dan sendi ibu yang sering menggendong bayi, serta menstabilkan energi agar ibu tak mudah lemas di tengah kurang tidur.

Berapa Banyak Protein yang Sebenarnya Dibutuhkan?

Secara umum, perempuan dewasa membutuhkan sekitar 55-60 gram protein per hari. Nah, saat menyusui, angka ini biasanya ditambah sekitar 15-20 gram ekstra per hari, tergantung usia bayi yang tambahannya lebih besar dari biasanya dan dianjurkan pada enam bulan pertama menyusui, saat produksi ASI sedang di puncaknya. Artinya, total kebutuhan protein ibu menyusui bisa mencapai 75-80 gram per hari.

Angka ini bisa bervariasi tergantung berat badan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan ibu, sehingga konsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi tetap dianjurkan untuk kebutuhan yang lebih personal.

Kalau Protein Kurang, Apa yang Terjadi?

Ketika asupan protein tidak mencukupi, tubuh ibu tidak akan membiarkan bayi kekurangan gizi begitu saja, ia akan "mencuri" cadangan protein dari otot dan jaringan ibu sendiri. Akibatnya, ibu bisa mengalami kelelahan berlebih, penurunan massa otot, penyembuhan luka yang lambat, daya tahan tubuh menurun, hingga risiko produksi ASI yang kurang optimal dalam jangka panjang.

Sumber Protein: Hewani dan Nabati

Untungnya, protein bisa didapat dari berbagai sumber. Dari sisi hewani, ada telur, ikan, ayam, daging sapi tanpa lemak, susu, dan yogurt yang semuanya kaya asam amino lengkap yang mudah diserap tubuh. Dari sisi nabati, tempe, tahu, kacang-kacangan, edamame, dan kacang almond juga jadi andalan.

Kombinasi keduanya justru ideal: protein hewani memberi kelengkapan asam amino, sementara protein nabati menyumbang serat dan lemak sehat tambahan.

Tips Memenuhi Kebutuhan Protein Harian

- Sisipkan sumber protein di setiap kali makan, bukan hanya saat makan besar misalnya telur rebus untuk sarapan, tempe goreng untuk camilan siang.

-        Siapkan camilan tinggi protein seperti kacang rebus atau susu hangat saat menyusui malam hari.

-        Variasikan sumber protein agar tidak bosan dan nutrisinya lebih lengkap.

-        Terakhir, jangan lupa cukupi cairan, karena produksi ASI juga sangat bergantung pada hidrasi tubuh.

Ingat Selalu "Isi Ulang" Sebelum Memberi

Menyusui adalah kerja tubuh yang luar biasa besar, dan protein adalah salah satu "bahan bakar" utamanya. Seperti pepatah lama, seseorang tidak bisa menuang dari gelas yang kosong. Ibu menyusui perlu terus mengisi ulang cadangan gizinya sendiri agar mampu memberi yang terbaik untuk buah hati tanpa mengorbankan kesehatannya sendiri.

Referensi
  1. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Kesehatan Keluarga. Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui, Inilah Kunci Anak Sehat. Jakarta: Kemenkes RI, 2021.

  2. World Health Organization. WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age. Geneva: WHO, 2023.

  3. Rumah Sakit Akademik UGM. Gizi Seimbang Ibu Menyusui: Investasi untuk Generasi Emas. Yogyakarta: RSA UGM, 2025.

  4. Hapsari, Q.C., dkk. (2021). Hubungan Asupan Protein, Status Gizi Ibu Menyusui, dan Kandungan Protein pada Air Susu Ibu (ASI): Telaah Sistematik. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 20(5), 372–378. https://doi.org/10.14710/mkmi.20.5.372-378

  5. Marissa, F., Flora, R., Zulkarnain, M., dkk. (2023). Studi Cross Sectional terhadap Hubungan Asupan Protein dengan Kadar Protein Total ASI pada Ibu Menyusui. Journal of Health Science, 15(2). https://doi.org/10.51712/mitraraflesia.v15i2.283

  6. Basrowi, R.W., Darus, F., Sundjaya, T., & Arumndari, R. (2025). Gizi Ibu: Fondasi Menyusui dan Masa Depan Anak. Amerta Nutrition, 9(4), 735–746. https://doi.org/10.20473/amnt.v9i4.2025.735-746

Kesehatan Ibu

ic-brand
Tunggu sebentar