Gagal ginjal sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang dewasa. Padahal, kondisi serius ini juga dapat terjadi pada anak-anak, bahkan sejak usia dini. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa gangguan fungsi ginjal bisa berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas, hingga akhirnya baru terdeteksi ketika sudah parah.
Apa itu Gagal Ginjal?
Gagal ginjal adalah kondisi ketika ginjal kehilangan kemampuan utamanya untuk menyaring limbah, racun, dan kelebihan cairan dari darah. Akibatnya, terjadi penumpukan zat-zat berbahaya dalam tubuh yang dapat merusak organ lain.
2 Jenis Gagal Ginjal
Pada anak, penyakit ginjal terbagi menjadi dua jenis utama:
1. Gagal Ginjal Akut (GGA)
Terjadi secara tiba-tiba (dalam hitungan jam–hari). Pada gagal ginjal akut, masalah biasanya muncul akibat tiga hal aliran darah yang tidak memadai ke ginjal, kerusakan pada jaringan ginjal, atau adanya sumbatan pada saluran kemih. Sebagian besar kasus dapat pulih jika penyebabnya ditangani dengan cepat. Namun, pada kasus berat, GGA bisa mengancam nyawa dan memerlukan perawatan intensif.
2. Penyakit Ginjal Kronis (PGK) / Gagal Ginjal Kronis (GGK)
Terjadi perlahan dalam waktu lama (≥3 bulan). Penyakit ginjal kronis pada anak banyak disebabkan oleh kelainan bawaan sejak lahir, terutama pada anak usia di bawah lima tahun. Misalnya ginjal yang tidak berkembang sempurna, kelainan struktur saluran kemih, glomerulonefritis kronis, sindrom nefrotik, penyakit autoimun seperti lupus, atau kondisi genetik seperti ginjal polikistik.
Pada kondisi ini, kerusakan ginjal bersifat progresif dan seringnya tidak dapat kembali normal. Jika berlanjut menjadi Gagal Ginjal Terminal, anak memerlukan terapi pengganti ginjal seumur hidup.
Gejala Gagal Ginjal yang Perlu Diwaspadai
Gejala gagal ginjal pada anak tidak selalu jelas. Banyak tanda yang tampak sepele atau mirip dengan penyakit lain, sehingga mudah diabaikan. Namun, ada beberapa perubahan yang perlu diwaspadai.
1. Oedema (Pembengkakan)
Salah satu gejala awal yang sering muncul adalah pembengkakan, terutama di sekitar mata, wajah, tangan, atau kaki. Ini terjadi karena penumpukan cairan dalam tubuh.
2. Gangguan Buang Air Kecil
Perubahan pada pola buang air kecil juga bisa menjadi petunjuk. Anak bisa menjadi jarang buang air kecil, urine berwarna pekat atau kecokelatan, mengeluarkan urine sangat sedikit, atau justru terlalu sering berkemih.
3. Perubahan Urine
Perubahan pada bentuk urine, seperti urine berbusa atau berdarah, juga menandakan adanya gangguan pada ginjal.
4. Kelelahan, Lesu, dan Mengalami Gangguan Pertumbuhan
Anak mungkin terlihat lebih lelah, pucat, atau mengalami gangguan pertumbuhan yang tidak jelas penyebabnya.
5. Gejala Lain
Keluhan lain seperti mual, muntah, sakit kepala, tekanan darah tinggi, atau nyeri di perut dan pinggang juga dapat berkaitan dengan masalah ginjal.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis Gagal Ginjal?
Mendiagnosis gagal ginjal tidak bisa dilakukan hanya dengan satu pemeriksaan.
1. Cek Riwayat Kesehatan
Dokter biasanya memulai dengan menanyakan riwayat kesehatan anak, termasuk keluhan yang muncul, riwayat infeksi, tekanan darah, atau perubahan urine.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium darah diperlukan untuk melihat kadar kreatinin dan ureum, yang menunjukkan kemampuan ginjal dalam melakukan penyaringan. Ketidakseimbangan elektrolit seperti natrium dan kalium juga bisa memberikan petunjuk.
3. Pemeriksaan Urine
Selain itu, pemeriksaan urine membantu mendeteksi adanya protein atau darah dalam urine.
4. Pemeriksaan Lainnya
Untuk mendapatkan gambaran lebih rinci, dokter dapat melakukan pemeriksaan pencitraan, seperti USG ginjal untuk menilai ukuran, bentuk, serta mendeteksi adanya sumbatan atau kelainan bawaan. Jika hasilnya belum cukup jelas, pemeriksaan lanjutan seperti CT scan atau MRI dapat digunakan untuk visualisasi yang lebih detail.
Dalam kasus tertentu, terutama untuk menentukan penyebab pasti penyakit ginjal kronis (PGK), dokter dapat melakukan biopsi ginjal, yaitu pengambilan sampel jaringan ginjal untuk diperiksa di bawah mikroskop.
Bisakah Gagal Ginjal Dicegah?
Meskipun kelainan bawaan tidak bisa dicegah, banyak hal lain yang dapat dilakukan agar fungsi ginjal anak tetap sehat.
Berikan anak pola makan seimbang, kurangi makanan tinggi garam dan gula, dan biasakan mereka untuk aktif bergerak.
Pastikan anak minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, dan batasi konsumsi minuman manis.
Hindari penggunaan obat sembarangan. Berikan obat hanya sesuai anjuran dokter, terutama obat yang berpotensi memengaruhi fungsi ginjal.
Jikaa anak memiliki riwayat infeksi saluran kemih berulang atau tekanan darah tinggi, pastikan melakukan pemeriksaan rutin sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Hal yang Harus Dilakukan Jika Gagal Ginjal Sudah Terjadi
Pengobatan gagal ginjal bertujuan menghentikan penyebabnya dan mencegah komplikasi.
Pada sebagian kasus, terapi suportif seperti pemberian cairan infus, pengaturan asupan cairan, obat untuk mengendalikan tekanan darah, atau koreksi elektrolit sangat penting dilakukan.
Jika penyebabnya adalah infeksi, dokter akan memberikan antibiotik.
Pada penyakit autoimun, obat imunosupresif mungkin diperlukan.
Pada kondisi gagal ginjal terminal, anak membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal bila memenuhi syarat.