Demam kejang adalah salah satu kondisi yang paling sering membuat orang tua panik. Biasanya terjadi pada anak usia enam bulan hingga lima tahun, saat demam naik dengan cepat. Meski tampak menakutkan, sebagian besar demam kejang bersifat jinak dan dapat pulih tanpa komplikasi.
Apa itu Demam Kejang pada Anak?
Demam kejang adalah kondisi kejang yang muncul ketika suhu tubuh anak meningkat, biasanya di atas 38°C dan bukan disebabkan oleh gangguan otak seperti radang otak atau meningitis. Kondisi ini dipicu oleh demam dari infeksi lain, misalnya flu, infeksi saluran napas, atau diare.
2 Jenis Demam Kejang
Berdasarkan ciri-cirinya, demam kejang diklasifikasikan menjadi dua yaitu, demam kejang sederhana (simple febrile seizure) dan demam kejang kompleks (complex febrile seizure).
1. Demam Kejang Sederhana
Demam kejang jenis ini paling sering terjadi, bahkan sekitar 80% dari seluruh kasus. Kejang biasanya melibatkan seluruh tubuh, berlangsung singkat (kurang dari 15 menit), dan tidak berulang dalam 24 jam.
2. Demam Kejang Kompleks
Jenis ini lebih jarang dan lebih berat. Kejang dapat berlangsung lebih lama dari 15 menit, hanya melibatkan satu bagian tubuh, atau muncul lebih dari satu kali dalam 24 jam.Penyebab Demam Kejang
Penyebab Demam Kejang
Penyebab utamanya adalah kenaikan suhu tubuh yang cepat akibat infeksi, terutama infeksi virus. Anak usia 12–18 bulan paling rentan mengalami kondisi ini.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya demam kejang antara lain:
Usia 12-18 bulan.
Adanya anggota keluarga (orang tua atau saudara kandung) yang pernah mengalami demam kejang. Faktor genetik diduga berperan dalam 60-80% kasus.
Kenaikan suhu cepat menjadi pemicu demam kejang.
Demam pasca-vaksinasi tertentu (sangat jarang).
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala utama kejang demam biasanya muncul bersamaan dengan demam tinggi (suhu rektal 38°C). Gejala khas selama bangkitan kejang antara lain sebagai berikut:
Gerakan Kejang yang ditandai oleh tubuh, tangan, dan kaki kaku (tonik) diikuti sentakan berirama (klonik).
Bola mata dapat berputar ke atas.
Wajah mungkin tampak pucat atau kebiruan (sianosis) di sekitar bibir.
Terkadang terjadi mengompol atau mengeluarkan air liur/buih dari mulut.
Setelah kejang berhenti, anak mungkin tampak bingung, mengantuk, atau lemas selama beberapa waktu (post-iktal).
Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Kejang?
Prioritas utama adalah menjaga jalan napas tetap terbuka dan mencegah cedera. Tindakan harus dilakukan dengan tenang dan cepat. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:
Letakkan anak di tempat yang aman dan jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti sumber listrik, kaca, atau benda tajam agar anak terhindar dari cedera selama kejang berlangsung.
Baringkan anak dalam posisi miring supaya makanan, minuman, muntahan, atau benda lain di dalam mulut dapat keluar dengan mudah sehingga anak tidak berisiko tersedak.
Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut anak, termasuk sendok atau jari, serta jangan memberikan minum saat anak sedang kejang karena tindakan tersebut dapat menyebabkan luka dan sumbatan pada saluran napas.
Jangan berusaha menahan gerakan tubuh anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena hal ini dapat menyebabkan cedera atau patah tulang.
Amati dengan saksama apa yang terjadi selama anak mengalami kejang, seperti durasi dan bagian tubuh yang terlibat, karena informasi ini penting untuk disampaikan kepada dokter. Setelah kejang berhenti, segera bawa anak ke unit gawat darurat atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Jika anak memiliki riwayat kejang demam dan telah dibekali obat kejang oleh dokter, berikan obat tersebut melalui dubur sesuai dengan petunjuk dokter setelah langkah-langkah pertolongan pertama dilakukan.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Kejang Berhenti?
Setelah kejang berhenti, anak mungkin tertidur atau bingung. Orang tua atau keluarga dapat melakukan langkah-langkah berikut:
Pastikan anak bernapas dengan baik dan tetap berada dalam posisi miring hingga benar-benar sadar agar terhindar dari risiko tersedak akibat air liur atau muntahan.
Segera berikan obat penurun panas (antipiretik) seperti parasetamol dengan dosis 10–15 mg per kilogram berat badan atau ibuprofen dengan dosis 5–10 mg per kilogram berat badan. Obat dapat diberikan melalui mulut atau dubur, tergantung kondisi anak dan sesuai dengan anjuran dokter.
Gunakan air hangat untuk mengompres atau menyeka bagian lipatan tubuh seperti ketiak dan selangkangan untuk membantu menurunkan suhu tubuh anak.
Setelah anak tampak lebih tenang dan kejang benar-benar berhenti, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat agar dokter dapat mencari dan menangani penyebab infeksi yang memicu demam, sekaligus memastikan tidak ada kondisi medis lain yang perlu ditangani lebih lanjut.
Tips Mencegah Demam Kejang
Pencegahan kejang demam berulang masih menjadi perdebatan, tetapi ada beberapa strategi yang dapat diterapkan:
1. Segera Berikan Obat Penurun Panas saat Anak Demam
Orang tua perlu segera memberikan obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen ketika anak mulai demam, yaitu saat suhu tubuh mencapai lebih dari 37,8°C (diukur dari ketiak). Tindakan ini penting dilakukan sejak awal agar suhu tubuh anak tidak naik terlalu cepat, karena peningkatan suhu yang mendadak dapat memicu terjadinya kejang pada anak yang rentan.
2. Berikan Obat Antikejang Sesuai Anjuran Dokter
Pada anak yang memiliki risiko tinggi mengalami kejang berulang, orang tua dapat memberikan obat antikejang seperti diazepam oral selama masa demam sesuai dengan resep dokter, biasanya dengan dosis sekitar 0,3 mg per kilogram berat badan setiap delapan jam selama 48 jam pertama demam. Namun, orang tua perlu memahami bahwa obat ini tidak diberikan secara rutin karena sebagian besar demam kejang bersifat jinak, serta dapat menimbulkan efek samping seperti rasa mengantuk dan gangguan keseimbangan (ataksia).
3. Tingkatkan Pengetahuan tentang Penanganan Demam
Orang tua perlu membekali diri dengan pengetahuan yang baik mengenai cara menangani demam dan kejang dengan benar. Pemahaman yang tepat akan membantu orang tua tetap tenang, mampu bertindak cepat, dan melakukan langkah pertolongan pertama yang benar saat anak mengalami demam tinggi atau kejang.
Kapan Harus Dibawa Ke Rumah Sakit?
Segera bawa anak ke Unit Gawat Darurat (UGD) atau fasilitas kesehatan terdekat jika terjadi hal-hal berikut:
Kejang berlangsung lebih dari lima menit atau tidak berhenti meskipun sudah diberikan dosis kedua diazepam rektal.
Kejang terjadi berulang dalam waktu kurang dari 24 jam.
Kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh, karena hal ini dapat menandakan kondisi yang lebih serius.
Anak tampak kesulitan bernapas, wajah atau bibirnya membiru, atau kejang menyebabkan henti napas.
Anak harus segera dibawa ke rumah sakit apabila tetap tidak sadar atau sangat lemas lebih dari satu jam setelah kejang berhenti.
Jika kejang demam terjadi pada bayi yang berusia di bawah enam bulan, segera bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Segera cari pertolongan medis apabila demam kejang disertai tanda-tanda infeksi otak seperti leher kaku, muntah proyektil (muntah yang keluar dengan sangat kuat dan menyembur jauh), atau penurunan kesadaran berat.